30 Mei 2005
Mendorong Implementasi CSR

Kelangsungan suatu usaha tak hanya ditentukan oleh tingkat keuntungan, tapi juga tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Apa yang terjadi ketika banyak perusahaan yang didemo, dihujat, bahkan dirusak oleh masyarakat sekitar lokasi pabrik? Bila ditelusuri, sangat boleh jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian dan tanggung jawab manajemen dan pemilik perusahaan terhadap masyarakat maupun lingkungan di sekitar lokasi perusahaan tersebut. Investor hanya mengeduk dan mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di daerah tersebut, tanpa memperhatikan faktor lingkungan. Selain itu, tidak ada atau nyaris sangat sedikit keuntungan perusahaan yang dikembalikan kepada masyarakat. Justru mereka malah dipinggirkan.

Berbagai peristiwa negatif yang menimpa sejumlah perusahaan, terutama setelah reformasi, seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi para pemilik dan manajemen perusahaan untuk memberikan perhatian dan tanggung jawab yang lebih baik kepada masyarakat, khususnya di sekitar lokasi perusahaan. Hal ini sekarang populer dengan sebutan Corporate Social Responsibility (CSR, tanggung jawab sosial perusahaan). Menurut Ketua Corporate Forum for Community Development (CFCD) Thendri Supriatno, CSR sangat penting tidak hanya bagi masyarakat, melainkan juga perusahaan itu sendiri. ''CSR dapat mencegah dampak sosial lebih buruk, baik langsung atau tidak langsung, atas kelangsungan usaha, karena gesekan dengan komunitas sekitar,'' tutur Thendri.

Menurut tokoh yang aktif mendorong perusahaan-perusahaan untuk mengimplementasikan CSR dan bergabung dalam CFCD, CSR perlu dilaksanakan secara sadar sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial perusahaan. ''Hal yang perlu disadari, CSR juga merupakan bagian dari pembagunan citra perusahaan (Corporate Image Building),'' tandasnya. Aminuddin, Corporate Secretary PT Astra International Tbk, mengemukakan sudah seharusnya sebuah perusahaan turut bertanggung-jawab atas lingkungan sekitarnya. "Kita ini hidup bermasyarakat, demikian juga dengan perusahaan yang banyak produknya untuk kepentingan masyarakat. Maka sudah selayaknya dan bahkan kewajiban bagi sebuah perusahaan untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya," jelas Aminuddin.

Ditambahkannya, PT Astra International Tbk, dalam visinya menekankan kepada setiap cabang atau anak perusahaannya untuk turut bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. "Apalagi, falasafah yang dipegang Astra adalah bermanfaat bagi bangsa dan negara, maka tanggung jawab (responsibilty) perusahaan kepada lingkungan sekitarnya merupakan sesuatu yang mutlak," tegasnya. Kepedulian perusahaan, lanjut Aminuddin, bukan hanya pada lingkungan masyarakat sekitar perusahaan saja, tetapi pada internal perusahaan pun, kepedulian sosial (CSR) tersebut harus diwujudkan. "Misalnya bagaimana menciptakan suasana kerja yang sehat, aman dan penuh dengan kedamaian dan ketenangan. Dengan demikian, maka karyawan pun akan merasa tenang dan damai bekerja didalam perusahaan," tegasnya.

Astra selalu menekankan program tersebut melalui Divisi Environment, Health and Safety (EHS) dan divisi Community Development dan Divisi Corporate Public Relations dalam arti yang uas dan benar serta industrial Relations dan Employee Relations. Hal yang sama diungkapkan Sri Bugo Suratmo, wakil Kepala Divisi Public Relations, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Menurut Sri Bugo, setiap perusahaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, sudah seharusnya memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial dengan lingkungan sekitarnya. "CSR merupakan salah satu kegiatan yang sangat baik dan perlu untuk dikembangkan oleh setiap perusahaan mengingat kemajuan dan perkembangan perusahaan tidak terlepas dari dukungan masyarakat sekitar,'' tegasnya. Melalui kegiatan CSR, perusahaan menunjukkan kepedulian dan komitmen moral terhadap kepentingan masyarakat, terlepas dari kalkulasi untung rugi bagi perusahaan.

Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan CSR, Indofood menggelar berbagai macam kegiatan seperti lomba balita Indonesia, beasiswa pendidikan, lomba pustaka anak Nusantara, serta mudik lebaran karyawan Indofood. ''Dengan CSR, diharapkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada perusahaan dan produk-produk yang dihasilkan semakin tinggi, juga adanya saling pengertian dan saling menguntungkan diantara kedua pihak baik perusahaan maupun masyarakat," papar Sri Bugo Suratmo. PT Riaupulp juga tak mau ketinggalan menerapkan CSR. Bahkan, perusahaan yang berbasis di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau itu, membentuk departemen tersendiri yang disebut Program Pemberdayaan Masyarakat Riau (PPMR) yang dipimpin oleh pejabat setingkat direktur.

''Keberlanjutan perusahaan tidak hanya tergantung kepada profit, tapi juga harus memenuhi aspek lingkungan atau 'planet' dan aspek sosial atau 'people'. Untuk itulah, PT Riaupulp selalu menjaga dan mengembangkan doamin 'Profit, People, dan Planet' dalam satu kesatuan tarikan nafas,'' kata mantan direktur PPMR Riaupulp, Elyas di Pangkalan Kerinci, belum lama ini. Dia menambahkan, ruang lingkup program yang dikembangkan PPMR Riaupulp meliputi empat bidang.

Yakni, penguatan ekonomi masyarakat pedesaan melalui pengembangan sistem pertanian terpadu, pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) melalui pengembangan aspek kewirausahaan dan kemitraan usaha, pengembangan pelatihan kejuruan, serta pengembangan program sosial dan infrastruktur.Selain perusahaan-perusahaan di atas, perusahaan seperti pabrik rokok HM Sampoerna dan pabrik sabun Lifebuoy (Unilever), juga melakukan kegiatan CSR. HM Sampoerna memberikan beasiswa pendidikan, Lifebouy dengan kampanye hidup sehat. Bank Niaga juga aktif melakukan CSR, khususnya melalui pengumpulan buku untuk disumbangkan ke berbagai sekolah yang membutuhkan.

{Kendala CSR} Menurut Aminuddin, kendala yang dialami sebuah perusahaan dalam melaksanakan CSR terletak pada komitmen dari perusahaan itu sendiri. "Apakah perusahaan bersangkutan mempunyai komitmen untuk turut bertanggung-jawab terhadap lingkungan sekitarnya atau tidak," ungkapnya. Sebab, kata dia, jika perusahaan itu tidak memiliki komitmen terhadap lingkungan sekitarnya, maka tanggung jawab dan kepedulian sosial itu pun juga tidak ada. Hal itu, lanjut Aminuddin, juga berdampak pada dukungan perusahaan bersangkutan untuk mewujudkan kepedulian tersebut. Selain komitmen dan dukungan dari perusahaan, menurutnya, kendala yang juga dihadapi sebuah perusahaan dalam menjalankan kepedulian sosial tersebut adalah program yang akan dilaksanakan. "Banyak perusahaan yang memiliki komitmen tinggi terhadap masalah-masalah sosial, namun program yang dilaksanakan tidak berdasarkan pada ketulusan hati nurani. Artinya, bentuk kepedulian sosial hanya ditujukan pada popularitas semata," ungkapnya. n sya Ketua CFCD Thendri Supriatno Mencegah Gesekan Sosial -- pakai foto Thendri Supriatno -- Ketua Corporate Forum for Community Development (CFSD), Thendri Supriatno mengatakan CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) merupakan keharusan bagi perusahaan bila ingin terus maju dan berkembang. ''Komitmen perusahaan terhadap masyarakat yang diimplementasikan dalam bentuk program CSR dapat mencegah munculnya gesekan sosial yang dapat merugikan perusahaan maupun masyarakat,'' tuturnya. Dia menegaskan, bila CSR dilaksanakan dengan baik, akan berdampak positif terhadap keberlangsungan usaha. Selain itu, CSR pun dapat menjadi bagian dari pembangunan citra perusahaan. ''Di negara-negara maju, CSR merupakan salah satu prasyarat bagi sebuah perusahaan untuk mendapatkan pinjaman dari bank. Di Indonesia, belum sejauh itu, namun berbagai kejadian negatif yang menimpa berbagai perusahaan seharusnya menjadi pelajaran bagi para pemilik dan manajemen perusahaan untuk segera menerapkan CSR,'' tandasnya. Thendri mengungkapkan, saat ini masih banyak perusahaan yang melakukan CSR hanya sebagai ''pemadam kebakaran''. Begitu terjadi kasus keributan dengan masyarakat, buru-buru mereka melakukan penanangan, misalnya dengan memberikan bantuan dana kepada masyarakat sekitar. Menurut Thendri, program peredam gejolak atau pemadam kebakaran ini mempunyai banyak risiko negatif, seperti menciptakan ketergantungan, menciptakan psikologi ''tak pernah cukup', dan tidak mendidik. Selain itu, tidak terprogram, serta tidak akan berkelanjutan. Thendri menegaskan, apa pun tujuan dan kebutuhannhya, perancangan dan perencanaan program CSR tetap memerlukan pemahaman yang benar atas kondisi dan perubahan masyarakat, serta tujuan yang ingin dicapai perusahaan melalui program tersebut. ''Salah pendekatan akan menyebabkan ketentraman dan keamanan terganggu dalam menjalankan usaha,'' paparnya. CFCD, kata Thendri, mendapatkan beberapa temuan penyebab kurang berhasilnya program pengembangan komunitas (CD) dan CSR. Pertama, rendahnya komitmen perusahaan. Kedua, kekeliruan perancanan program dan miskonsepsi. Ketiga, penempatan personel yang kurang tepat. Keempat, penempatan fungsi CD dalam struktur organisasi perusahaan (dijabat rangkap), sehingga menjadi marjinal dan pengambilan keputusan sangat lambat. n ika 


Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id